Dialektika Kesucian dan Kemanusiaan: Analisis Filosofis-Maqashidi terhadap Hukum Bersuci bagi Orang yang Luka dan Memakai Perban

Authors

  • Reza Fahlevi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia Author
  • Saifullah M Yunus Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia Author
  • Muhammad Husnul Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia Author

DOI:

https://doi.org/10.71153/fathir.v3i2.465

Keywords:

Thaharah Al-Jabirah, Empat Mazhab, Maqashid Syariah, Rukhsah, Fikih Kontemporer

Abstract

Hukum bersuci bagi orang yang luka dan memakai perban merupakan isu penting dalam fikih karena menyingkap hubungan dialektis antara teks syariat dan realitas manusia. Kesucian, dalam konteks ini, tidak semata persoalan ritual, tetapi refleksi ontologis tentang bagaimana hukum Islam memahami keterbatasan fisik manusia tanpa meniadakan kewajiban ibadah. Permasalahan penelitian ini mencakup bagaimana konstruksi hukum bersuci bagi orang luka dipahami oleh empat mazhab fikih, bagaimana perbedaan metodologis antara Syafi’i, Hanbali, Hanafi, dan Maliki menjelaskan praktik tayammum dan pengusapan perban, serta bagaimana maqashid syariah menata prinsip kemudahan dan kemaslahatan di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode normatif-filosofis dengan pendekatan kualitatif kepustakaan melalui analisis terhadap teks-teks klasik seperti Al-Umm, Al-Mughni, Bada’i‘ al-Shana’i‘, Al-Mudawwanah al-Kubra, serta sumber kontemporer seperti Fiqh al-Islam wa Adillatuhu karya Wahbah al-Zuhaili. Analisis dilakukan secara hermeneutik-komparatif untuk menyingkap rasionalitas hukum di balik perbedaan pandangan mazhab. Hasil kajian menunjukkan bahwa hukum bersuci bagi orang yang luka merupakan sintesis antara ketaatan dan rahmat; mazhab Syafi’i-Hanbali menekankan integrasi wudhu dan tayammum, sedangkan Hanafi-Maliki menonjolkan keseimbangan antara bahaya dan kemaslahatan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa hukum ini menggambarkan fleksibilitas dan kedalaman moral hukum Islam dalam menjaga kesucian dan kemanusiaan secara bersamaan.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdul Fattah Mahmud Idris. (1996). An-Nafis fi Fiqh al-‘Ibadat (Cet. 1). t.t.p.: t.p.

Al-Ghazali, A. H. (t.t.). Al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Juzairi, A. R. (t.t.). Al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba‘ah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Kasani, A. (t.t.). Bada’i‘ al-Shana’i‘ fi Tartib al-Shara’i‘. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Malik, I. (t.t.). Al-Mudawwanah al-Kubra. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Syafi‘i, M. ibn I. (t.t.). Al-Umm. Beirut: Dar al-Ma‘rifah.

Al-Syathibi, A. I. (2005). Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari‘ah (ed. ‘Abdullah Darraz). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Zuhaili, W. (2010). Fiqh al-Islam wa Adillatuhu (Vol. 1). Jakarta: Gema Insani Press.

As-Syarbini, M. ibn K. (1997). Mughni al-Muhtaj ila Ma‘rifah Ma‘ani Alfazh al-Minhaj (Vol. 1). Beirut: Dar al-Ma‘rifah.

Auda, J. (2010). Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. Dalam Contemporary Approaches to Islamic Law (pp. 115–143). London: International Institute of Islamic Thought.

Aziz, M. (2021). Rasionalitas Rukhsah dan Spirit Kemanusiaan Hukum Islam: Sebuah Analisis Maqashidi. FATHIR: Jurnal Studi Islam, 2(1), 33–52. https://doi.org/10.5678/fathir.v2i1.117

Hallaq, W. B. (2009). An Introduction to Islamic Law. Cambridge: Cambridge University Press.

Hasan, N. (2022). Dialektika Ibadah dan Kemaslahatan: Telaah Fiqh al-Taysir dalam Perspektif Maqashid Syariah. FATHIR: Jurnal Studi Islam, 3(2), 75–96. https://doi.org/10.5678/fathir.v3i2.203

Ibn Qudamah, A. (2004). Al-Mughni (Vol. 1). Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub.

Ibn Taimiyyah, T. (2004). Majmu‘ al-Fatawa (Vol. 21). Riyadh: Dar al-Wafa’.

Kamali, M. H. (2008). Principles of Islamic Jurisprudence. Cambridge: Islamic Texts Society.

Majelis Ulama Indonesia (MUI). (2021). Fatwa Tentang Bersuci bagi Pasien Rumah Sakit dan Penggunaan Alat Medis Permanen. Diakses dari https://mui.or.id

Majma‘ al-Fiqh al-Islami. (2008). Qararat wa Tawshiyat Majma‘ al-Fiqh al-Islami: Hukum Bersuci bagi Pasien Medis dan Penggunaan Perban. Diakses dari https://www.iifa-aifi.org

Mujiburrahman. (2020). Fiqh al-Tibb dan Reaktualisasi Thaharah dalam Konteks Medis. Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies, 27(3), 451–478. https://doi.org/10.15408/sdi.v27i3.16412

Rahman, F. (1982). Legal Reasoning in Islamic Law. Dalam Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (pp. 55–77). Chicago: University of Chicago Press.

Rahman, F. (2018). Reason and Revelation in Islamic Jurisprudence. Journal of Islamic Ethics, 4(2), 145–162. https://doi.org/10.1163/24685542-12340022

Syafiq, A. (2020). Kontekstualisasi Kaidah Fikih “La Dharar wa La Dhirar” dalam Praktik Medis Islam. Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Islam, 28(2), 223–240. https://doi.org/10.24042/jufi.v28i2.6582

World Muslim League. (2019). Resolution on Contemporary Fiqh Issues Related to Medical Practice. Diakses dari https://www.themwl.org

Downloads

Published

2026-06-12

How to Cite

Fahlevi, R., Yunus, S. M., & Husnul, M. (2026). Dialektika Kesucian dan Kemanusiaan: Analisis Filosofis-Maqashidi terhadap Hukum Bersuci bagi Orang yang Luka dan Memakai Perban. Fathir: Jurnal Studi Islam, 3(2), 124-148. https://doi.org/10.71153/fathir.v3i2.465