Karakteristik Campuran HRS-Base Menggunakan Agregat Batu Sungai Nanggala Kecamatan Nanggala Kabupaten Toraja Utara
DOI:
https://doi.org/10.71153/jimmi.v3i1.662Keywords:
HRS-Base, Karakteristik Agregat, Batu Sungai, Kadar Aspal Optimum, Uji MarshallAbstract
Lapisan pondasi atas (base course) pada struktur perkerasan lentur berperan penting dalam menyalurkan beban lalu lintas ke lapisan di bawahnya, salah satunya melalui campuran beraspal panas HRS-Base (Hot Rolled Sheet–Base). Agregat pada campuran HRS-Base umumnya berasal dari batu pecah hasil tambang, namun keterbatasan ketersediaan dan tingginya biaya transportasi mendorong pemanfaatan material lokal sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik agregat, aspal, dan filler, serta kinerja campuran HRS-Base yang menggunakan agregat batu Sungai Nanggala, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Penelitian bersifat eksperimental dengan metode Marshall, meliputi pengujian karakteristik agregat (analisa saringan, keausan Los Angeles, berat jenis dan penyerapan, serta partikel pipih dan lonjong), pengujian sifat fisik aspal penetrasi 60/70, penentuan kadar aspal rencana, pengujian Marshall konvensional pada variasi kadar aspal 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7%, serta pengujian Marshall immersion untuk memperoleh nilai stabilitas Marshall sisa. Hasil pengujian menunjukkan seluruh karakteristik agregat, aspal, dan filler memenuhi Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Parameter Marshall berupa stabilitas, flow, VIM, VMA, VFB, dan Marshall Quotient memenuhi persyaratan pada rentang kadar aspal yang diuji, dengan kadar aspal optimum (KAO) diperoleh sebesar 6,75%. Pada kadar tersebut, nilai stabilitas Marshall sisa (SMS) hasil pengujian Marshall immersion sebesar 90,50%, yang menunjukkan bahwa campuran HRS-Base dengan agregat batu Sungai Nanggala memiliki durabilitas yang memenuhi standar minimum 90%.
Downloads
References
Chalid, N. I. (2016). Karakteristik Campuran Aspal Hrs-Base Menggunakan Agregat Kasar Batu Kapur Asal Tinoring. Pena Teknik: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Teknik, 81-94. https://doi.org/10.51557/pt_jiit.v1i1.50
Direktorat Jenderal Bina Marga. (2018). Spesifikasi Umum 2018 untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan (Revisi 2) – Divisi 6: Perkerasan Beraspal. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2018). Manual Desain Perkerasan Jalan (Revisi 2018). Jakarta: PUPR.
Pampanglangi, M., & Kamba, C. (2022). Karakteristik Batu Gunung Posi’padang Balla Kabupaten MamasaYang Menggunakan Campuran Laston AC-WC. Paulus Civil Engineering Journal, 4(3), 479-487. https://doi.org/10.52722/eh8wek94
Rerungan, V., Bungin, E. R., & Bumbungan, M. (2024). Penggunaan Batu Sungai Kula Kabupaten Luwu Utara Pada Campuran HRS-BASE. Paulus Civil Engineering Journal, 6(4), 709-719. https://doi.org/10.52722/mbqpx831
Tesalonika, A. (2017). Kajian Penggunaan Batu Hampangen, Batu Tangkiling Dan Batu Awang Bangkal Sebagai Agregat Campuran Pada Hot Rolled Sheet-Base (HRS-BASE). Jurnal Teknika: Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Keteknikan, 1(1), 26-32. https://doi.org/10.52868/jt.v1i1.1370
Sukirman, S. (1999). Perkerasan Lentur Jalan Raya. Bandung: Nova.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Anastasia Granceselsi Pasang, Abdias Tandi Arrang, Ermitha Ambun Rombe Dendo (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











